Di wilayah Nusa Tenggara Barat, khususnya di daerah yang didominasi pegunungan seperti sebagian wilayah Kabupaten Bima dan Dompu, jagung bukan sekadar tanaman. Bagi masyarakat di sini, jagung adalah sumber penghidupan, harapan ekonomi, bahkan sering dianggap sebagai emas kuning yang mampu menyelamatkan keluarga dari kesulitan finansial.
Saya melihat langsung bagaimana masyarakat di daerah ini menggantungkan hidup pada tanah. Lereng-lereng gunung yang sebelumnya terlihat pepohonan, kini berubah menjadi hamparan tanaman jagung yang menghijau. Pemandangan itu memberi harapan. Namun, di balik pemandangan yang terlihat menjanjikan tersebut, ada persoalan besar yang sering tidak dibicarakan secara terbuka.
Masalah utamanya sederhana tetapi sangat serius. Hampir tidak ada lahan datar yang luas untuk bertani. Sebagian besar petani di wilayah ini hanya memiliki pilihan menanam di lereng-lereng gunung. Dan disinilah dilema itu bermula.
Realitas Petani: Bertani di Tanah Miring Bukan Pilihan, Tapi Keadaan
Banyak orang dari luar daerah sering bertanya, mengapa petani terus membuka lahan di pegunungan. Mengapa tidak menanam di lahan datar saja?
Jawabannya sebenarnya cukup sederhana: lahan datar hampir tidak tersedia.
Sebagian besar wilayah pedesaan di daerah ini dikelilingi perbukitan dan gunung. Lahan yang relatif datar biasanya sudah lama menjadi pemukiman, sawah terbatas, atau dimiliki oleh beberapa pihak tertentu. Sementara mayoritas petani kecil hanya memiliki akses ke lahan di lereng gunung.
Bertani di tanah miring tentu tidak mudah. Tanah mudah longsor, air hujan cepat mengalir ke bawah, dan kesuburan tanah sering cepat hilang. Namun bagi petani, menanam jagung tetap menjadi pilihan paling realistis karena tanaman ini relatif tahan terhadap kondisi tanah yang tidak terlalu ideal.
Masalahnya, ketika semakin banyak lahan gunung dibuka untuk jagung, perlahan-lahan fungsi alami hutan mulai hilang.
Ketika Hutan Hilang, Banjir Datang Lebih Cepat
Kata Orang tua di desa bahwa dulu gunung-gunung di sekitar mereka dipenuhi pohon besar. Hutan menjadi penahan alami air hujan. Ketika hujan turun deras, air tidak langsung mengalir ke desa, tetapi diserap oleh tanah dan akar pohon.
Sekarang kondisi itu mulai berubah.
Di banyak lereng gunung, pohon-pohon besar sudah jauh berkurang. Sebagian berubah menjadi lahan jagung, sebagian lagi menjadi lahan kosong setelah panen. Akibatnya, ketika hujan deras datang, air tidak lagi tertahan di gunung. Air langsung mengalir deras ke bawah membawa tanah, batu, dan lumpur.
Inilah yang menyebabkan banjir yang hampir setiap tahun terjadi di beberapa wilayah di NTB.
Banjir tersebut tidak hanya merusak rumah warga, tetapi juga menghancurkan jalan desa, jembatan kecil, dan lahan pertanian yang berada di dataran rendah. Bagi masyarakat yang sudah terbiasa hidup dengan penghasilan terbatas, kerugian seperti ini sangat berat.
Ironi Ekonomi: Jagung Memberi Uang, Tapi Bencana Mengambil Lebih Banyak
Jika dilihat dari sisi ekonomi jangka pendek, menanam jagung memang bisa memberikan penghasilan bagi petani. Saat harga jagung sedang bagus, petani bisa mendapatkan pendapatan yang cukup untuk kebutuhan keluarga, biaya sekolah anak, atau memperbaiki rumah.
Namun ada satu hal yang sering tidak dihitung secara serius, yaitu biaya kerusakan akibat bencana. Ketika banjir datang, kerugian yang muncul sering kali jauh lebih besar daripada keuntungan yang diperoleh dari panen jagung.
Beberapa dampak yang sering terjadi antara lain:
- sawah dan kebun di dataran rendah tertimbun lumpur
- jalan desa rusak sehingga aktivitas ekonomi terhambat
- rumah warga rusak atau bahkan hanyut
- ternak mati atau hilang terbawa banjir
Semua kerugian ini akhirnya harus ditanggung bersama oleh masyarakat dan pemerintah. Dalam jangka panjang, situasi ini bisa menjadi lingkaran masalah yang sulit diputus
Mengapa Petani Tetap Membuka Lahan di Gunung?
Pertanyaan ini penting untuk dijawab dengan jujur. Banyak orang mungkin dengan mudah menyalahkan petani karena membuka hutan. Tetapi jika kita melihat lebih dalam, situasinya tidak sesederhana itu.
Petani sering berada dalam kondisi yang serba terbatas:
- keterbatasan lahan datar
- keterbatasan pekerjaan lain
- kebutuhan ekonomi keluarga yang mendesak
Bagi seorang kepala keluarga yang harus membayar biaya sekolah anak atau memenuhi kebutuhan sehari-hari, membuka lahan di lereng gunung sering dianggap sebagai satu-satunya pilihan yang tersedia.
Karena itu, solusi terhadap masalah ini tidak bisa hanya berupa larangan atau penegakan hukum semata. Yang dibutuhkan adalah solusi yang realistis dan bisa diterima oleh masyarakat.
Mencari Solusi: Bertani Tanpa Merusak Gunung
Salah satu pendekatan yang mulai banyak dibicarakan oleh para ahli pertanian adalah sistem agroforestri.
Agroforestri adalah sistem pertanian yang menggabungkan tanaman pertanian dengan pohon-pohon keras dalam satu lahan. Dengan cara ini, petani tetap bisa menanam jagung atau tanaman lain, tetapi di sela-selanya juga ditanam pohon yang memiliki akar kuat untuk menahan tanah.
Beberapa contoh tanaman yang bisa dipadukan antara lain:
- pohon kemiri
- pohon jambu mete
- pohon sengon
- pohon buah seperti mangga atau alpukat
Selain membantu menjaga tanah agar tidak mudah longsor, pohon-pohon ini juga bisa memberikan penghasilan tambahan dalam jangka panjang.
Membuat Terasering di Lereng Gunung
Solusi lain yang cukup efektif adalah membuat terasering atau undakan pada lahan miring.
Metode ini sebenarnya sudah lama dikenal dalam pertanian tradisional di berbagai daerah pegunungan. Dengan membuat undakan, aliran air hujan bisa diperlambat sehingga tidak langsung mengikis tanah. Selain itu, tanah juga menjadi lebih stabil dan lebih mudah diolah.
Sayangnya, pembuatan terasering membutuhkan tenaga dan biaya tambahan. Karena itu, dukungan dari pemerintah atau program pendampingan sangat penting agar petani mau menerapkannya.
Diversifikasi Tanaman: Tidak Hanya Jagung
Ketergantungan yang terlalu besar pada satu komoditas juga bisa menjadi masalah. Jika harga jagung turun atau terjadi gagal panen, ekonomi petani langsung terguncang.
Karena itu, penting bagi masyarakat untuk mulai mempertimbangkan diversifikasi tanaman, misalnya:
- hortikultura seperti cabai dan bawang
- tanaman buah bernilai ekonomi
- peternakan skala kecil
Dengan memiliki beberapa sumber penghasilan, risiko ekonomi petani bisa lebih terkendali.
Peran Pemerintah dan Edukasi Masyarakat
Upaya menjaga keseimbangan antara ekonomi dan lingkungan tidak bisa dilakukan oleh petani sendiri. Pemerintah memiliki peran penting dalam beberapa hal, seperti:
- memberikan edukasi tentang pertanian berkelanjutan
- membantu program penghijauan di daerah hulu
- menyediakan bantuan teknologi pertanian yang ramah lingkungan
- memperkuat pengawasan terhadap pembukaan hutan secara besar-besaran
Selain itu, tokoh masyarakat dan tokoh agama juga memiliki peran besar dalam menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga alam.
Menurut saya kesadaran kolektif masyarakat sering kali lebih efektif daripada aturan yang dipaksakan dari luar.
Menjaga Masa Depan Tanah NTB
Pada akhirnya, persoalan ini bukan sekadar tentang jagung atau hutan. Ini adalah soal bagaimana kita menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekonomi hari ini dan keberlanjutan lingkungan di masa depan.
Petani tentu membutuhkan penghasilan yang layak. Tetapi pada saat yang sama, masyarakat juga membutuhkan lingkungan yang aman dari bencana.
Jika gunung terus digunduli tanpa pengelolaan yang bijak, banjir kemungkinan akan terus terjadi setiap tahun. Dan kerugian yang muncul bisa semakin besar.
Sebaliknya, jika masyarakat mulai menerapkan cara bertani yang lebih bijak dengan menjaga pohon, membuat terasering, dan tidak membuka lahan secara berlebihan gunung bisa tetap menjadi pelindung alami bagi desa-desa di bawahnya.
Tanah di NTB memiliki potensi besar untuk mendukung kehidupan masyarakat. Namun potensi itu hanya bisa bertahan jika kita merawatnya dengan cara yang benar.
Karena pada akhirnya, tanah bukan hanya tempat kita mencari nafkah hari ini, tetapi juga warisan yang akan kita tinggalkan untuk generasi berikutnya.