Pasca Gugurnya Ayatollah Khamenei: Timur Tengah Diambang Perang Total, Harga Minyak Berguncang

Ilustrasi ketegangan di Selat Hormuz 

TEHERAN – Eskalasi konflik di Timur Tengah mencapai titik didih baru menyusul konfirmasi gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan udara terkoordinasi oleh Amerika Serikat dan Israel. Dunia kini menyoroti langkah balasan Teheran yang mulai menyasar aset-aset Barat dan sekutu regionalnya.

1. Teheran Luncurkan Operasi Balasan Besar-besaran

Menanggapi peristiwa Sabtu (28/2/2026) tersebut, Garda Revolusi Iran (IRGC) segera mengaktifkan gelombang serangan ke wilayah Israel Tengah. Laporan dari AFP menyebutkan setidaknya enam warga sipil di Beit Shemesh menjadi korban jiwa dalam serangan rudal balasan tersebut.

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan bahwa pembunuhan Khamenei bukan sekadar serangan politik, melainkan "deklarasi perang terhadap seluruh umat Muslim."

2. Fokus Serangan: Pangkalan Militer AS di Negara Arab

Meski membantah menargetkan negara tetangga secara sengaja, serangan Iran nyatanya berdampak pada wilayah Teluk. Di Uni Emirat Arab (UEA), yang menampung basis militer Washington, dilaporkan tiga orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka.

Kondisi ini memicu reaksi diplomatik keras:

Arab Saudi Memanggil Duta Besar Iran sebagai protes atas ancaman keamanan wilayahnya.

Negara Teluk Dijadwalkan menggelar pertemuan darurat via daring malam ini guna merumuskan respons kolektif terhadap agresi Iran.

Inggris Melalui Menteri Pertahanan John Healey, mengecam serangan Iran yang dianggap "tanpa pandang bulu" dan mengeluarkan larangan perjalanan (travel warning) bagi warganya ke Bahrain, Kuwait, Qatar, dan UEA.

3. Ancaman Jalur Energi: Kapal Tanker Tenggelam di Hormuz

Ketegangan ini merembet ke sektor ekonomi global. Sebuah kapal tanker minyak dilaporkan karam di Selat Hormuz setelah dihantam proyektil Iran. IRGC mengancam akan menutup total jalur vital yang mengangkut 25% pasokan minyak dunia tersebut.

Sebagai langkah antisipasi guncangan pasar, aliansi OPEC+ (termasuk Saudi dan Rusia) secara mengejutkan mengumumkan kenaikan produksi sebesar 206.000 barel per hari. Langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas suplai energi global di tengah ketidakpastian perang.

4. Transisi Kepemimpinan: Munculnya Ayatollah Alireza Arafi

Untuk mengisi kekosongan kekuasaan, pemerintah Iran secara resmi menunjuk Ayatollah Alireza Arafi sebagai Pemimpin Tertinggi Sementara. Arafi, yang dikenal sebagai sosok loyalis dalam hierarki keagamaan Iran, kini memegang kendali di masa transisi yang paling krusial dalam sejarah modern negara tersebut.

5. Gelombang Protes Global dan Pertemuan Darurat PBB

Sentimen anti-Barat meledak di berbagai negara. Di Karachi, Pakistan, bentrokan antara demonstran dan aparat mengakibatkan sembilan orang tewas saat massa mencoba merangsek masuk ke Konsulat AS. Aksi serupa juga terjadi di Irak, Kashmir, dan wilayah selatan Iran.

Di sisi lain, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dijadwalkan mengadakan sidang luar biasa pada hari Senin di Wina. Pertemuan yang diinisiasi oleh Rusia ini akan membahas masa depan program nuklir Iran pasca-runtuhnya stabilitas kepemimpinan di Teheran

Situasi ini menandai babak baru yang jauh lebih berbahaya dalam konflik Timur Tengah. Dengan terlibatnya aktor-aktor besar dan ancaman pada jalur perdagangan energi dunia, stabilitas ekonomi global kini berada di ujung tanduk.

Lebih baru Lebih lama